Pernah melihat John Petrucci, Paul Gilbert, Yngwie Malmsteen atau mungkin Synyster Gates bermain gitar?
Pernah berpikir bahwa mereka memainkan gitar tersebut bak memencet stik PS 2 karena saking cepatnya?
Pernah berpikir bahwa bermain gitar itu gampang sekali dan bermimpi dapat ber-shredding ria seperti jagoan-jagoan gitar tadi dalam waktu sebulan?
Jika hal-hal tersebut pernah mampir di benak Anda atau mungkin sampai sekarang Anda masih berpendapat demikian, lebih baik anda buang teori seperti itu jauh-jauh.
Tidak, saya tidak bermaksud untuk membuyarkan semua harapan Anda teman-teman, tapi memang begitulah kenyataannya. Bermain gitar tak semudah melihat.
Pikiran-pikiran seperti itu pun pernah hinggap di benak saya juga. Dulu ketika saya masih duduk di kelas 2 SMP. Saya pernah melihat seorang teman saya bermain gitar pada suatu waktu di kelas. Saya berpikir, ” Gampang sekali memainkannya ternyata. Mungkin dalm 2 atau tiga hari gw udah bisa main 1 lagu.” Padahal pada saat itu saya tidak tahu apa-apa soal gitar. Saya cuma berpikir bahwa saya akan terlihat lebih keren jika bisa bermain gitar seperti dia.
Lalu setelah saya sampai di rumah, saya pun langsung bergegas ke kamar, mengambil gitar saya yang sudah dari dulu dibelikan oleh Ayah saya namun tak pernah saya sentuh sedikitpun karena saya tak termotivasi belajar gitar, dan langsung berusaha untuk memainkan salah satu lagu dari majalah kumpulan lagu-lagu yang saya pinjam dari teman saya. Ketika saya memainkan lagu pertama, saya langsung merasakan. Bahwa bermain gitar tidak semudah berkomentar. Tangan saya pada saat itu masih belum kuat untuk menekan senar-senar fret karena belum biasa. Padahal untuk mendapatkan kekuatan untuk menekan fret, saya dulu membutuhkan hampir seminggu agar ketika gitar di genjreng tidak ada suara yang fals (seperti nguik-nguik) . Kembali lagi pada hari itu, karena saya sudah merasa tak bisa, saya lalu memainkan lagu yang lain. Ternyata hasilnya tak jauh beda dengan yang saya lakukan pada lagu pertama. Muncul suara Nguik-nguik lagi. Memindahkan kord dari C ke D saja saja saya masih membutuhkan waktu yang lumayan lama. Dan saya dulu hanya bisa menggenjreng dengan satu arah, saya tak tahu kenapa saya bisa kayak gitu. Lalu setelah lagu demi lagu saya mainkan, saya putuskan bahwa ternyata sya tak bisa main gitar, saya tak berbakat dan saya tak akan pernah mau untuk memainkan gitar lagi.. Sebuah pernyataan yang sangat konklusif sekali melihat hasil yang saya peroleh ketika usaha pertama saya bermain gitar.
Lalu setelah itu, pada hari berikutnya, saya melihat teman saya lagi memainkan gitar. Saya pertama masih berpikir ternyata gitar tak menarik untuk saya. Namun entah kenapa, begitu saya sampai di rumah lagi, niat saya untuk bermain gitar tumbuh lagi. Saya pun bermain lagu satu demi satu. Walaupun masih sama jeleknya, tapi saya bertekad Kalau orang lain bisa melakukannya, mengapa saya tidak? padahal orang lain dan saya sama-sama makan nasi juga lho.. Sebuah motto penyemangat yang masih saya pegang teguh hingga sekarang.
Hari demi hari saya lalui dengan bermain gitar setiap hari. Hingga akhirnya saya hampir bisa menguasai sebagian besar kord gitar . Saya sangat senang sekali. Bisa memainkan sebuah lagu yang meskipun tidak rumit tapi cukup membuat perjuangan saya tidak sia-sia.
Hingga hari ini saya menulis blog ini, saya pun masih senantiasa berlatih gitar, walaupun frekuensinya tak sesering dulu lagi, tapi setidaknya dalam sehari saya sudah menyentuh gitar saya. Walaupun saya belum sejago teman-teman saya yang suka jago, tapi setidaknya saya berusaha untuk meningkatkan skill dan pengetahuan saya di gitar.
Semoga tulisan saya ini bisa menjadi renungan, bahwasanya kita tak boleh meremehkan sesuatu. Tak hanya dalam gitar, namun dalam bidang-bidang yang lain yang dapat kita temukan sehari-hari pun tak boleh kita remehkan.
Haha. capek juga ya nulis kayak gini di warnet. oke, sampai ketemu di postingan saya berikutnya.
